Adab dan Anjuran Saat Memakai Sandal dan Melepas Sandal

Adab dan Anjuran Saat Memakai Sandal dan Melepas Sandal

Posted on

SlingaDigital – Adab dan Anjuran Saat Memakai Sandal dan Melepas Sandal. Di tengah kehidupan sehari-hari, tindakan sederhana seperti memakai sandal dan melepas sandal seringkali dianggap sepele. Namun, di balik rutinitas tersebut terdapat nilai-nilai adab dan anjuran yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Menjaga etika dalam tindakan sehari-hari, termasuk cara memakai dan melepas sandal, mencerminkan budaya dan kesopanan yang kaya, dan menghormati lingkungan sekitar.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi adab dan anjuran yang berkaitan dengan penggunaan sandal. Mulai dari bagaimana memasang sandal dengan benar hingga tata cara melepasnya tanpa menimbulkan ketidaknyamanan bagi diri sendiri dan orang lain. Mari kita renungi betapa pentingnya tindakan sederhana ini dalam menciptakan keharmonisan dan rasa hormat di dalam masyarakat. Langkah dengan adab, bukan hanya sebuah kenyamanan, tetapi juga refleksi dari kepekaan terhadap nilai-nilai etika dan kebersamaan.

 

Adab dan Anjuran Saat Memakai Sandal dan Melepas Sandal

Ibnul Arabi megatakan, “Sandal termasuk pakaian para nabi.” Salah satu ciri khas Rasulullah ﷺ yang bisa dilihat orang adalah setiap kali bepergian selalu menggunakan sandal. Bahkan anjuran untuk menggunakan alas kaki tersebut ada disebutkan dalam hadis.

اسْتَكْثِرُوا مِنَ النِّعَالِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ رَاكِبًا مَا انْتَعَلَ

“Sering-seringlah memakai sandal. Karena seseorang akan selalu naik kendaraan selama dia memakai sandal.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Imam An Nawawi menjelaskan bahwa bersandal disamakan seperti naik kendaraan dalam hal sama-sama meringankan beban dan tidak mudah kelelahan. Selain itu, kaki juga lebih terjaga dari bahaya di jalan, seperti duri, jalanan yang kasar, atau kotoran.

Rasulullah ﷺ saat salat terkadang tetap mengenakan sandal. Pernah suatu kali saat sujud Rasulullah ﷺ melepas sandal dan ternyata diikuti para sahabat yg bermakmum di belakangnya. Sesungguhnya saat itu Jibril datang membisikkan bahwa ada kotoran pada sandalnya jadi Nabi melepaskannya.

Baca Juga:  Arti dan Makna Waidza Batostum Batostum Jabarin

Zaman sekarang di mana masjid sudah sedemikian bagus dan lantainya sangat bersih, maka hendaklah kita melepas sandal saat memasukinya. Rasulullah ﷺ juga pernah melepas sandal saat salat dan menganjurkannya.

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلَا يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِينِهِ وَلَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُونَ عَنْ يَمِينِ غَيْرِهِ إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ

“Apabila salah seorang di antara kalian melaksanakan salat, janganlah dia meletakkan sandalnya di sisi kanan atau kirinya sehingga menjadi di sisi kanan orang lain, kecuali di sisi kirinya tidak ada orang lain, dan hendaklah dia meletakkannya di antara kedua kakinya.” (HR. Abi Daud)

Selain menunjukkan bahwa Nabi ﷺ salat melepas sandal, hadis tersebut juga memuat adab menaruh sandal saat salat misal Salat Id dengan membawa plastik, adalah menempatkannya di antara kedua kaki atau depan kita pas di bawah perut saat kita sujud agar tak mengganggu orang lain.

Banyak hadis menyebutkan sandal dalam berbagai konteks. Di antaranya bahwa surga dan neraka lebih dekat daripada tali sandal kita. Maka kita musti berhati-hati agar tak keliru langkah hingga terperosok ke neraka.

الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ

“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang kalian daripada tali sandalnya, dan neraka juga demikian.” (HR. Bukhari)

Surga dan neraka lebih dekat daripada tali sandal, bahkan hal yang dianggap sepele bisa menjadi penyebab masuk ke surga atau sebaliknya, masuk ke neraka. Ada kisah orang masuk surga dan neraka gara-gara seekor lalat.

Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu. Kedua orang ini tak memiliki apapun untuk dipersembahkan.

Baca Juga:  Daftar Tokoh Habib Yang Berpengaruh di Indonesia

Kaum itu memberi kemudahan dengan berkata, “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!” Seorang di antaranya segera mempersembahkan seekor lalat, maka kaum itu mempersilakan meneruskan perjalanannya.

Sementara orang yang satu lagi menolak memberi persembahan pada berhala meski hanya seekor lalat. Katanya, “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah.” Maka merekapun memenggal lehernya.

Rasulullah ﷺ yang menceritakan itu pada para sahabat mengatakan bahwa kedua orang itu terpisah hanya karena seekor lalat. Orang pertama yang mempersembahkan lalat masuk ke neraka, sedangkan yang dipenggal masuk ke surga.

Rasulullah ﷺ menganjurkan kita memakai alas kaki atau sandal saat bepergian. Ketika di perjalanan ternyata sandal kita putus talinya, maka tak boleh kita memakai satu dan melepas yang satunya. Hendaklah memakai semua atau melepas semuanya.

لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ, وَلْيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا, أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا.

“Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal. Hendaklah ia memakai kedua-duanya atau melepas kedua-duanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Mengapa kita tidak diperkenankan mengenakan sandal hanya sebelah? Penyebabnya adalah, memakai sendal sebelah itu menyerupai kelakuan setan. Kemudian, memakai sandal sebelah adalah sebuah sikap tidak adil. Dan, memakai sendal sebelah dilarang oleh Rasulullah ﷺ karena termasuk pakaian nyeleneh, di luar keumuman.

Ketika sandal putus kita dianjurkan mengucap kalimat istirja, yakni lafal innalillahi wainna ilaihi rajiun. Jangan malah mengumpat karena akan membuat setan senang. Bahkan Rasulullah ﷺ mengatakan umpatan manusia membuat setan membesar seperti rumah dan sombongnya mengatakan bahwa terjadi karena kekuatannya.

Rasulullah ﷺ juga memberikan contoh adab memakai sendal dengan dimulai dari sebelah kanan dan melepaskannya yang kiri terlebih dahulu. Sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Baca Juga:  Ilmu Ajian Waringin Sungsang

إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ

“Apabila salah seorang di antara kalian memakai sandal, maka hendaklah ia mendahulukan kaki kanan. Sedangkan apabila ia hendak melepaskannya, maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri. Jadikanlah kaki kanan yang pertama kali memakai sandal, dan yang terakhir melepaskannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat Abu Thalib meninggal dalam kekafiran, Rasulullah ﷺ memintakan ampun untuknya. Allah ﷻ hanya mengabulkan dengan membekali sandal pada Abu Thalib saat berada di neraka yang hanya bisa meringankan sedikit saja dari siksa neraka.

 

 

Penutup

Itulah beberapa informasi tentang Adab dan Anjuran Saat Memakai Sandal dan Melepas Sandal yang bisa SlingaDigital Bagikan. Dalam setiap langkah, terkandung nilai-nilai kebijakan dan kehormatan yang dapat memberikan dampak positif pada hubungan sosial kita. Begitu pula dengan perbuatan sederhana seperti memakai dan melepas sandal, yang ternyata memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan penuh etika.

Adab dan anjuran yang kita pelajari saat memakai dan melepas sandal tidak hanya sekadar norma-norma sosial, tetapi juga simbol dari kepedulian terhadap kebersamaan. Setiap langkah yang diambil dengan penuh etika adalah investasi pada kenyamanan bersama dan menjaga harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga artikel ini memberikan wawasan dan mengingatkan kita tentang pentingnya melibatkan diri dalam tindakan sederhana yang menghormati nilai-nilai adab. Langkah-langkah yang diambil dengan kesadaran akan etika bukanlah semata-mata kewajiban, tetapi juga langkah kecil menuju lingkungan yang lebih baik dan penuh saling menghargai. Mari kita terus berjalan dengan adab, menghormati lingkungan dan orang di sekitar kita, sehingga setiap langkah kita menjadi jejak kebaikan yang tak terlupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *