Isra Miraj

Hikmah Serta Tujuan Memperingati Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Posted on

SlingaDigital – Hikmah Serta Tujuan Memperingati Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra Miraj, yang merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam, memiliki kedalaman spiritual dan hikmah yang mendalam. Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga suatu momen untuk merenungkan tujuan dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Peristiwa Isra Miraj memperlihatkan ketundukan dan ketaatan Nabi Muhammad SAW kepada perintah Allah. Dalam perjalanan spiritual ini, Nabi diundang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Peringatan Isra Miraj mengingatkan umat Islam akan pentingnya menjaga hubungan yang erat dengan Allah, meresapi ajaran-Nya, dan menjalani kehidupan dengan penuh takwa. Pada Artikel kali ini SlingaDigital akan memberikan beberapa informasi tentang Hikmah Serta Tujuan Memperingati Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

 

Isra Mi’raj

Isra Mi’raj adalah merupakan peristiwa saat Nabi Muhammad melakukan perjalanan di malam hari, yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh dalam satu malam.Menurut ulama, Isra Mi’raj terjadi satu tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, yakni pada tanggal 27 Rajab.

Isra Miraj adalah salah satu peristiwa penting bagi umat Islam karena ini merupakan hari peringatan di mana Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam. Penggambaran kejadian ini tercantum dalam surah ke-17 di Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Isra.

Isra Miraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Itulah secuil sejarah dari Isra Miraj.

Hal ini berdasarkan surat Al-Isra ayat 1 yaitu

سُبۡحٰنَ الَّذِىۡۤ اَسۡرٰى بِعَبۡدِهٖ لَيۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اِلَى الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِىۡ بٰرَكۡنَا حَوۡلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنۡ اٰيٰتِنَا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيۡعُ الۡبَصِيۡرُ

Subhaanal laziii asraa bi’abdihii lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqsal-lazii baaraknaa haw lahuu linuriyahuu min aayaatinaa;innahuu Huwas Samii’ul-Basiir”Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Tujuan Memperingati Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Tujuan Isra Miraj sebenarnya terkandung dalam hadist.

Sebuah riwayat mencatat, Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjalankan salat lima waktu,
dan peristiwa itu dicantumkan dalam kitab Hadis Sahih milik Imam Muslim:

“…dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah didatangi Burak. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut burak tersebut mencapai ujungnya.”

Dia bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitulmaqdis.” Dia bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan salat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu, dan aku pun memilih susu”.

Baca Juga:  Tahukah Anda Perbedaan Lemon dan Jeruk, Pahami dari Rasanya

Lalu Jibril berkata, “Kamu telah memilih fitrah”. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanyakan lagi, ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutus? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutus.’ Maka, dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu, aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf alaihi salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris alaihi salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

Allah berfirman: ‘(…dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi derajatnya) ‘. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun alaihi salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.

Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawabnya, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim alaihi salam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitulmakmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitulmakmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratulmuntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan.”

Baca Juga:  Resep dan Cara Membuat Burger Malaysia Sederhana

Dia bersabda: “Ketika dia menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu, Allah memberikan wahyu kepada dia dengan mewajibkan salat lima puluh waktu sehari semalam.

Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa alaihi salam, dia bertanya, ‘Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ‘ Dia bersabda: “Salat lima puluh waktu’. Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israil dan menguji mereka’. Dia bersabda: “Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku’. Lalu Allah subhanahu wata’ala. mengurangkan lima waktu salat dari dia’.

Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangkan lima waktu salat dariku’. Nabi Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi’. Dia bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap salat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh salat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya, barang siapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu, jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya’.

Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan’. Aku menjawab, ‘Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya’.” — Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Isra’ Rasulullah ke langit, hadits nomor 234.

Hikmah Serta Tujuan Memperingati Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Pertama, tingginya derajat kehambaan. Dalam surat Al-Isra’ ayat satu yang mengisahkan peristiwa Isra’ Mi’raj, kata yang digunakan untuk menyebut Nabi Muhammad saw adalah ‘abdun’ yang berarti hamba. Ini menunjukkan hamba yang benar-benar bertakwa kepada Allah mendapat derajat begitu luhur di sisi-Nya. Penyebutan kata ‘abdun’ yang ditunjukkan untuk Nabi Muhammad tidak hanya terdapat dalam surat ini saja, dalam surat lain seperti Al-Baqarah ayat 23 dan Al-Jin ayat 19 juga demikian.

Kedua, pembekalan dakwah yang tangguh. Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang yang Nabi cintai dan mendukung misi dakwahnya sepenuh hati silih berganti meninggal dunia, di sisi lain penindasan kaum Quraisy semakin hebat. Ujian bertubi-tubi yang Allah lakukan ini agar Nabi benar-benar tangguh dalam berdakwah.

Baca Juga:  Cara Membuat Sapu Lidi Dengan Mudah

Ketiga, menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Begitu pagi setelah malam Isra’ Mi’raj, Nabi mengabarkan apa yang baru dialaminya ke penduduk Makkah. Praktis, banyak orang yang tidak percaya dengan kabar ‘tidak masuk akal’ ini. Ini menunjukkan bahwa kebenaran harus tetap disampaikan, meskipun banyak mendapat penolakan.

Keempat, syariat Nabi Muhammad menghapus syariat nabi-nabi terdahulu. Saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu. Ini bukti bahwa mereka tunduk dan mengikuti risalah Nabi Muhammad saw sekaligus menjadi isyarat bahwa syariatnya telah menghapus syariat nabi-nabi sebelumnya.

Kelima, keistimewaan Masjidil Aqsha bagi umat Muslim. Dalam perjalanan Isra’, masjid yang berada di Palestina itu menjadi tempat tujuan Nabi, sebelum akhirnya bertolak ke Sidratul Muntaha. Ini merupakan indikasi betapa mulianya masjid tersebut.

Keenam, Islam merupakan agama yang suci. Ketika Nabi Muhammad saw diberi pilihan antara air susu dan khamr saat Mi’raj di , Nabi lebih memilih susu. Kemudian Malaikat Jibril as berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah).

Ketujuh, pentingnya persoalan shalat. Malam Isra’ Mi’raj merupakan waktu disyariatkannya shalat lima waktu secara langsung, tanpa melalui perantara Malaikat Jibril sebagaimana syariat-syariat lainnya. Ini menunjukkan betapa shalat memiliki kedudukan sangat penting bagi umat Islam.

Kedelapan, memantapkan Nabi Muhammad saw. Sebelum Mi’raj, Rasulullah hanya mendengar info terkait surga, neraka, dan hal-hal gaib lainnya melalui wahyu. Ini namanya ‘ilmul yaqin, Nabi mengimaninya tapi belum melihat langsung. Ketika Mi’raj, Rasulullah saw melihat langsung dengan mata kepala beliau sendiri. Ini namanya ‘ainul yaqin. Ketika seseorang sudah sampai pada ‘ainul yaqin, maka kemantapan atas apa yang diyakininya semakin kuat.

 

 

Penutup

Itulah beberapa informasi tentang Hikmah Serta Tujuan Memperingati Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang bisa SlingaDigital Bagikan.
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momen bersejarah, tetapi juga merupakan panggilan untuk merenung, memahami, dan mengeksplorasi hikmah serta tujuannya. Melalui peristiwa Isra Mi’raj, umat Islam diundang untuk mendalami makna spiritual, etika, dan ajaran keagamaan yang terkandung di dalamnya.

Hikmah dari peringatan Isra Mi’raj adalah panggilan kepada umat Islam untuk meningkatkan spiritualitas dan ketakwaan. Pengalaman Isra Mi’raj mengajarkan bahwa ketinggian spiritual dapat dicapai melalui kebersihan hati, ketaatan pada ajaran Allah, dan koneksi yang mendalam dengan Sang Pencipta. Peringatan ini juga memupuk rasa syukur atas nikmat hidayah Islam serta membawa kesadaran akan tanggung jawab moral dan sosial umat.

Tujuan dari peringatan Isra Mi’raj adalah untuk menyatukan umat Islam dalam cinta, toleransi, dan persaudaraan. Sebagai peristiwa luar biasa yang mengangkat Nabi Muhammad SAW ke langit, Isra Mi’raj mengajarkan umat Islam untuk memperkuat ikatan keimanan dan solidaritas sesama muslim. Ini menjadi momentum untuk introspeksi diri, perbaikan diri, dan peningkatan amal ibadah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *